Dilema Penerapan Oli berstandart SNI



Masih hangat pemberitaan seputar standarisasi oli SNI yang beredar di dunia maya bahwa "Oli Castrol nekat akan berjualan oli tanpa label SNI" CNN INDONESIA. Sebagai pemilik kendaraan yang cukup memperhatikan kualitas oli, penulis cukup prihatin jika penerapan ber standarisasi SNI betul-betul segera diterapkan karena penerapan semacam ini bagai pisau bermata dua. Dimana sisi luarnya dapat melindungi produsen oli yang ada di dalam negeri tetapi disisi lainnya konsumen masih terbayang-bayang dengan oli ber-SNI tetapi berisi minyak curah alias oli PALSU. Kita sebagai konsumen memiliki hak untuk memilih kualitas oli yang baik untuk kendaraan kita, tetapi di sisi lain impor oli dari luar juga tidak baik karena akan mengganggu perkembangan oli dalam negeri. Sebaiknya pemerintah membaca masalah oli SNI ini lebih luas, karena bukan dari masalah perlindungan produsen oli saja tetapi juga perlindungan konsumen terhadap OLI PALSU,contoh yang paling mudah kita temui pada helm motor kita yang bisa saya bilang SNI abal-abal hanya terjatuh dari jok motor beberapa kali sudah terdapat retakan.

Entalah konsumen seakan dibodohi dengan label SNI tersebut, yang penulis tanyakan apakah SNI pada helm motor tersebut ada tingkatan atau gradenya? Memang tidak semua orang dapat memberi helm mahal, tetapi setidaknya sertifikasi SNI tersebut betul-betul sesuai dengan kekuatan benturannya. Kembali lagi soal oli, saat ini masih sangat marak pembuatan dan penjualan oli PALSU. Apa si pembuat oli abal-abal ini gak kegirangan jika pemerintah menerapkan standarisasi SNI bagi oli yang ingin tetap berjualan di Indonesia. Secara tidak langsung konsumen mau tidak mau membeli oli produksi dalam negeri dan kalian pasti berfikir berapa banyak kendaraan bermotor yang ada di Negara kita hingga jakarta menduduki tingkat tertinggi dalam tingkat polusi udara yang ada di dunia. Yang jelas semakin banyak kendaraan bermotor semakin banyak pula kebutuhan Oli. Masalahnya jika kebutuhan oli buatan dalam negeri meningkat pesat karena produk-produk impor banyak yang gulung tikar maka si pembuat oli abal-abal ini juga semakin meraja lela, karena saat ini percetakan sudah semakin canggih maka cukup dengan botol oli bekas maka oli PALSU bisa diperjual belikan secara bebas. Masih dari berita CNN INDONESIA oli palsu yang beredar ada sekitar 200rb kiloliter per tahunnya. Penerapan SNI memang baik bagi perkembangan oli dalam negeri karena dapat melindungi karya anak bangsa kita sendiri dan juga pengurangan terhadap impor tetapi setidaknya hukuman bagi pembuat oli palsu ini lebih ditingkatkan lagi entah di bui 15 tahun hingga izinnya dicabut, karena efeknya selain merusak kendaraan konsumen juga membuat polusi gas buangnya jadi lebih beracun. Jadi menurut penulis dari sisi standarisasi SNI ini masih belum menguntungkan konsumen sebagai end user / pemakai karena masih dibayangi oleh OLI SNI abal-abal

Belum ada Komentar untuk "Dilema Penerapan Oli berstandart SNI"

Posting Komentar

Bagaimana menurut pendapat kalian.. silahkan like,share dan komen

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel