Kedepannya Istilah BEV, PHEV, HEV, ICE Akan Ada di Daerah Kalian Masing - Masing


Industri otomotif saat ini sedang gencar - gencarnya untuk membangun semua teknologi yang berkaitan dengan kendaraan berbasis EV (Electric Vehicle) memang topik ini jarang dibahas di dunia roda dua, lantaran teknologi ini masih dipusatkan pada kendaraan roda 4 terlebih dahulu. Tapi beberapa tahun lagi kita akan dihadapkan dengan kendaraan berbasis kendaraan listrik. Ya mungkin beberapa tahun lagi jurusan teknik elektro/listrik bakalan booming menjadi jurusan ter favorit di sekolah - sekolah perguruan tinggi.

Beberapa waktu yang lalu Kementerian Perindustrian telah melakukan beberapa langkah dalam penerapan kendaraan berbasis listrik. Diantaranya time line  kendaraan listrik, kebijakan yang mendukung agar terlaksananya kendaraan listrik serta aturan - aturan yang berlaku mengenai kendaraan listrik. Program ini berlaku mulai dari tahun 2021 hingga 2030 nantinya.

Saya sih ini cuma ber-imajinasi saja, jika makin banyak kendaraan murni menggunakan sumber tenaga battery maka si pengrajin knalpot pasti bakalan rame dan protes keras karena kendaraan listrik murni sudah pasti tanpa knalpot. Hanya menggunakan motor listrik dan gear reduksi sebagai penggeraknya. Tapi kedepannya si pengerajin knalpot bisa ganti usaha dengan membuka fasilitas charger battery dipinggir jalan yang menyewakan genset nya untuk nge-cas battery kendaraan yang tiba - tiba kehabisan di daerah yang masih belum ada fasilitas charging. Dan warung kopi tetaplah menjadi usaha sampingan yang gak akan mati ketika kita menunggu battery mobil kita diisi selama satu jam. Sambil nunggu isi ulang battery bisa sambil ngopi dan ngabisin beberapa putung rokok.

Dipilihnya Pak Basuki Thahaja Purnama " Ahok " memang salah satunya bertujuan untuk membangun kilang minyak itu sendiri. Karena di tahun 2020 hingga kedepannya kita akan menghadapi masa penurunan kapasitas mesin, kompresi tinggi, mesin kecil dengan turbocharger dan pasti memasuki era EURO 5. Kebijakan ini memang Indonesia ingin membuat bumi kita menjadi lebih hijau dengan menekan polusi udara yang ada di negara kita. Jadi antara standart EURO 5 dengan Kendaraan Listrik keduanya sama - sama saling berkembang yang untuk selanjutnya semua teknologi tersebut bisa kita nikmati.

Melihat geografis negara kita, masih banyak daerah - daerah pelosok yang masih mengandalkan kendaraan konvensiaonal untuk kegiatan sehari - hari. Ini juga sempat saya renungkan, bagaimana jika kedepannya kita berkendara dengan jarak yang cukup jauh dan berada didaerah pelosok yang masih hutan belantara? Disisi lain ketika hidup dikota besar yang telah tersedia fasilitas pengecasan battery gak mungkin juga model pengisiannya seperti di SPBU. Mengisi battery gak cukup 10 menit, pastinya bikin antrian panjang. Seperti contoh di negara EROPA, proses pengecasan bettery berada di tempat - tempat yang orang tersebut bisa menghabiskan waktu yang cukup lama, seperti mall, tempat belajar, perpustakaan dan tempat wisata. Jadi prosesi isi ulang kita gak perlu menunggu berlama - lama di dalam mobil.

Kedepannya biaya BBN-KB untuk kendaraan listrik akan dihilangkan serta biaya pajak pertahun juga hanya 50 persen, itu semua demi terwujudnya kendaraan berbasis listrik. Tapi apa kita sudah paham mengenai apa saja jenis - jenis nya kendaraan listrik? karena ini juga menyangkut dengan daerah - daerah kita yang bisa jadi belum terdapat fasilitas pengecasan battery. Dari intro diatas saya akan bahas sedikit secara garis besar jenis kendaraan listrik yang nantinya akan beredar di negara kita

BEV (Battery Electric Vehicle
Memang sesuai dengan kedengarannya. Kendaraan ini murni menggunakan batery sebagai sumber dayanya. Jika battery sampai habis, kendaraan gak akan bisa jalan. Mungkin sangat tepat jika digunakan di kota - kota besar yang memang sudah tersedia fasilitas charging port yang sudah tersebar di area - area dengan jarak yang cukup dekat. Salah satunya mobil nissan leaf, motor gesit yang memang cocok untuk kendaraan untuk jarak dekat. Sebagai tambahan di google map, sudah pasti muncul fitur lokasi pengecasan battery terdekat ketika kalian kehabisan daya. Dan mungkin harga sudah pasti bersaing mengingat vendor yang akan memberikan fasilitas pengisian daya tidak hanya dari PLN dan Pertamina saja. Pertarungan fasilitas pengisian battery  bisa jadi disertai dengan promo - promo seperti cash back, gratis kopi, hingga cuci mobil. Karena zaman millenial ini, pembayaran dengan cara tunai sudah mulai bergeser dengan menggunakan uang digital.

Metode dalam pengisian battery juga tidak hanya lewat charging port  tetapi dengan menginjak rem dan melepas gas juga bisa menghasilkan daya untuk mengisi battery. Tapi ya daya tersebut gak sebesar menggunakan charging port


PHEV (Plug In Electric Vehicle)
Memang kedengarannya hampir sama dengan istilah diatas karena masih menekankan proses pengecasan dalam mengisi daya. "Plug In" yang bisa diartikan memasukkan / menancapkan / memasangkan juga termasuk suatu langkah untuk memasangkan port charging ke mobil kalian. Kendaraan dengan sistem PHEV tenaga yang diambil tidak hanya dari battery saja, tetapi dari mesin konvensional juga. Cara kerja nya cukup sederhana, ketika kalian berkendara dalam jarak dekat maka tenaga battery sudah cukup untuk memenuhi perjalanan di dalam kota. Jika ingin berkendara dengan jarak yang cukup jauh ketika daya dari battery akan habis maka mesin konvensional mulai bekerja untuk membuat kendaraan anda tetap berjalan.

Bisa dibilang PHEV adalah kendaraan dengan sistem DUALISME karena masih menggunakan mesin konvensional dan juga battery. Teknologi ini menurut opini saya sangat cocok di gunakan di INDONESIA. Karena negara Indonesia yang terdiri banyak pulau, masih banyak daerah - daerah pelosok yang masih tradisional maka pilihan kendaraan dengan sistem PHEV sangat cocok digunakan untuk perjalanan di dalam kota dan luar kota. Kita gak perlu khawatir ketika battery kita sudah habis karena kendaraan kita masih dibekali mesin konvensional didalamnya, tinggal isi bensin kendaraan siap jalan kemana saja. Pulang ke rumah tinggal isi ulang batterynya lagi. Sensasi berkendara juga masih berasa kendaraan konvensional. Jika ingin berkendara dengan suara hening, senyap dan tak terasa pilih menggunakan daya battery. Dan ketika perjalanan jauh, kalian masih bisa mendengarkan raungan mesin, knalpot ketika menginjak gas karena menggunakan mesin konvensional


HEV (Hybrid Electrical Vehicle)
Bedanya dengan PHEV kendaraan dengan sistim hybrid selalu mengandalkan mesin konvensional untuk membuat kendaraan anda tetap berjalan. Hanya ada tambahan battery sebagai penunjang agar konsumsi bahan bakar, emisi, dan performa kendaraan lebih baik ketimbang kendaraan non hybrid.
Setau saya gak ada istilah fitur charging port untuk mengisi daya battery dalam kendaraan hybrid. Battery yang ada dalam kendaraan ini bisa terisi ulang kembali dengan proses yang hampir sama dengan kendaraan BEV.  Contohnya Honda PCX Hybrid dan Toyota Camry Hybrid. Dengan mekanisme seperti itu, maka kira - kira dalam kurun waktu 5 tahun dalam penggunaan normal bisanya battery sudah minta diganti


ICE (Internal Combustion Engine)
Ini sebutan untuk kendaraan konvensional yang masih menggunakan pembakaran ruang dalam untuk mengahasilkan gaya / gerakan. Kendaraan yang tiap harinya membutuhkan bensin / solar bisa disebut juga dalam kategori ICE. Bahan bakarnya ya fossil, dan istilah ICE sudah ada sejak lama dan sampai hari ini kita gunakan pada kendaraan konvensional kita sehari - hari


Lantas, apakah semua kendaraan akan berbasis listrik? gak semuanya karena ngapain juga pertamina ngotot untuk membangun kilang minyak untuk standart EURO V.. ? Ya tujuannya memang agar semua pabrikan otomotif gak rugi - rugi amat karena sudah terlanjur membangun dan mengembangkan teknologi emisi gas buang EURO V. Kita sebagai konsumen sedikit - demi sedikit akan digiring menuju kendaraan ber standart euro v dan kendaraan berbasis listrik. 

Kendaraan listrik juga tidak bisa sembarangan dipasang disemua kendaraan. Karena semakin besar kapasitas battery maka bobot battery juga semakin bertambah. Dan berat tersebut juga tidak efisien ketika digunakan di kendaraan - kendaraan niaga seperti Bus dan Truck, maka alternatif lainnya menggunakan energi tenaga hydrogen. Butuh penampungan yang cukup luas dan banyak jika menggunakan teknologi hydrogen, dan juga kendaraan besar juga wajib memiliki power dan torsi yang besar dengan berat yang ringan, karena kendaraan niaga peruntukannya akan membawa penumbang dan barang. Dengan membawa gas hydrogen berat kendaraan bisa dipangkas menjadi lebih ringan dibandingkan dengan bus / truk yang menggunakan tenaga battery sepenuhnya. 










Belum ada Komentar untuk "Kedepannya Istilah BEV, PHEV, HEV, ICE Akan Ada di Daerah Kalian Masing - Masing"

Posting Komentar

Bagaimana menurut pendapat kalian.. silahkan like,share dan komen

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel